Kawan, matahari bersinar terang tapi udara konsisten dengan dingin. Lantas gempa tiba-tiba menerjang. Banyak orang meregang nyawa dibelahan timur. Sementara di belahan barat, orang-orang alim terus menerus berkumpul. Terus menerus berembuk untuk menentukan formula terbaik bagi bangsa dan negara.

Ada 3 kunci yang saya dapat.  Anomali hawa, goyangan dan perkumpulan orang alim. Tentu ada skenario Alloh ketika membiarkan matahari bersinar terang tapi hawa tetap dingin. Seolah-olah sinar matahari tak mampu mengusir dingin yang melanda bumi. Dibalik cuaca seperti sekarang, virus influenza membabi buta. Segala usia, segala status sosial terserang influenza. Bayangkan oleh anda kawan, ketika influenza menyerang masih bisakah anda berpikir normal? Bisa. Tapi butuh jeda. Untuk istirahat atau sekedar mengendapkan pikiran dan badan. Tapi yang terjadi sekarang, jarang-jarang orang beristirahat. Jarang-jarang orang mengendapkan pendapat, pengetahuan atau konsep. Semuanya ingin terburu-buru. Dengan alasan deadline dan darurat. Maka saya akan bertanya, apa perbedaan darurat dengan tergesa-gesa?

Jika saya terserang influenza akut, maka harusnya saya beristirahat dan mengendapkan dahulu segala sesuatu yang berkaitan dengan fisik (materi). Tentu saya mungkin tak akan mengadakan pertemuan-pertemuan penting dahulu. Terutama pertemuan yang menentukan arah jalan bangsa dan negara. Bisa dibayangkan bagaimana saya berpikir untuk kemaslahatan rakyat bila raga saya meronta-ronta terserang influenza.

Ah influenza mah penyakit ringan, gampang sembuh. Justru itu, bagaimana kita bisa berpikir tepat ketika kepala berat, hidung meler lalu batuk berdahak yang intensitasnya terus menerus? Yang saya khwatirkan itu influenza melanda bumi dan langit. Menembus anasir-anasir kehidupan semesta. Sehingga cahaya seakan kalah oleh dinginnya hati manusia. Lantas Alloh memberi tanda lain dengan menggoyangkan bumi.

FTB, 070818

BERI KOMENTAR!